Arca Buddha Vajrasattva zaman Kadiri, abad X/XI, koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman. |
Kerajaan Kadiri atau Kediri atau
Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun
1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota
Kediri sekarang yaitu di tepi Sungai Brantas. Wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri
meliputi Kediri, Madiun, dan bagian barat Medang Kamulan.
- Prasasti Sirah Keting (1104 M), yang memuat tentang pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Raja Jayawarsa.
- Prasasti yang ditemukan di Tulungagung dan Kertosono, yang berisi masalah keagamaan, diperkirakan berasal dari Raja Bameswara tahun 1117 – 1130 M.
- Prasasti Ngantang (1135 M), yang menyebutkan tentang Raja Jayabaya yang memberikan hadiah kepada rakyat Desa Ngantang sebidang tanah perdikan yang bebas dari pajak.
- Prasasti Jaring (1181 M) dari Raja Gandra yang memuat tentang sejumlah nama hewan, seperti kebo waruga dan tikus finada.
- Prasasti Kamulan (1194 M), yang menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, Kerajaan Kediri telah berhasil mengalahkan musuh yang memusuhi istana di Katang-katang.
- Prasasti Kamulan (1194 M), yang menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, Kerajaan Kediri telah berhasil mengalahkan musuh yang memusuhi istana di Katang-katang. Buku ini banyak mengambil cerita dari buku Ling Wai Tai Ta (1778 M) karangan Chu Ik Fei. Kedua buku tersebut menerangkan keadaan Kerajaan Kediri pada abad ke-12 dan 13 Masehi.
A. KEHIDUPAN POLITIK
Keadaan
politik pemerintahan dan keadaan masyarakat di Kediri ini dicatat dalam berita
dari Cina, yaitu dalam kitab Ling-Wai-tai-ta yang ditulis oleh Chou K’u-fei
pada tahun 1178 dan pada kitab Chu-fan-chi yang disusun oleh Chaujukua pada
tahun 1225. Kitab itu melukiskan keadaan pemerintahan dan masyarakat zaman
Kediri. Kitab itu menggambarkan masa pemerintahan Kediri termasuk stabil dan pergantian
takhta berjalan lancar tanpa menimbulkan perang saudara.
Di
dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh tiga orang putranya dan
empat pejabat kerajaan (rakryan), ditambah 300 pejabat sipil (administrasi) dan
1.000 pegawai rendahan. Prajuritnya berjumlah 30.000 orang dengan mendapat gaji
dari kerajaan. Raja berpakaian sutra, memakai sepatu kulit, perhiasan emas, dan
rambutnya disanggul ke atas. Jika bepergian, raja naik gajah atau kereta dengan
dikawal oleh 500–700 prajurit. Pemerintah sangat memperhatikan keadaan
pertanian, peternakan, dan perdagangan. Pencuri dan perampok jika tertangkap
dihukum mati.
Setelah
58 tahun mengalami masa suram, Kerajaan Panjalu (Kediri) bangkit lagi sekitar
tahun 1116. Raja yang memerintah, antara lain sebagai berikut.
1.
Rakai
Sirikan Sri Bameswara
Raja Bameswara pertama
adalah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Sarwwaniwaryya
Wiryya Parakrama Digjayattunggadewa. Hal itu disebutkan pada Prasasti Pandlegan
I yang berangka tahun 1038 Saka (1116 Masehi).
Raja Sirikan masih mengeluarkan prasasti lain,
yaitu
a. Prasasti
Panumbangan berangka tahun 1042 Saka (1120 M)
b. Prasasti
Geneng berangka tahun 1050 Saka (1128 M)
c. Prasasti
Candi Tuban berangka tahun 1052 Saka (1130 M)
d. Prasasti
Tangkilan berangka tahun 1052 Saka (1130 M).
Prasasti
lainnya adalah Prasasti Karang Reja berangka tahun 1056 Saka (1136 Masehi),
tetapi tidak jelas siapa yang mengeluarkannya. Apakah dikeluarkan oleh
Bameswara atau Jayabaya? Lencana kerajaan yang digunakan adalah tengkorak
bertaring di atas bulan sabit yang disebut Candrakapala. Bameswara diperkirakan
memerintah hingga tahun 1134 M.
2.
Raja
Jayabaya
Pengganti Raja
Bameswara adalah Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara
Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana. Ia
memerintah pada tahun 1057 Saka (1135 M).
Salah satu prasastinya
yang menarik adalah Prasasti Talan berangka tahun 1508 Saka (1136 M) yang
berisi pemindahan Prasasti Ripta (tahun 961 Saka) menjadi Prasasti Dinggopala
oleh Raja Jayabaya. Dalam prasasti itu, ia disebutkan sebagai penjelmaan Dewa
Wisnu.
Lencana kerajaan yang
dipakai adalah Narasingha, tetapi pada Prasasti Talan disebutkan pemakaian
lencana Garuda Mukha. Pada Prasasti Hantang (1057 Saka) atau 1135 M dituliskan
kata pangjalu jayati, artinya panjalu menang berperang atas Jenggala dan
sekaligus untuk menunjukkan bahwa Jayabaya adalah pewaris takhta kerajaan yang
sah dari Airlangga.
3.
Raja
Sarweswara
Pengganti Raja Jayabaya
ialah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardhanawatara
Wijayagrajasama Singhanadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayattunggadewanama.
Sarweswara memerintah tahun 1159 hingga 1169. Lencana kerajaan yang digunakan
adalah Ganesha.
4.
Sri
Aryyeswara
Raja Sarweswara
kemudian digantikan oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara
Madhusudanawatararijamukha. Masa pemerintahan Raja Sri Aryyeswara hanya sampai
tahun 1181 dan digantikan oleh Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa
Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayattunggaduwanama Sri Gandra.
5.
Sri
Gandra
Pada masa pemerintahan
Sri Gandra dikenal jabatan senapati sarwajala (laksamana laut). Dengan jabatan
itu, diduga Kediri mempunyai armada laut yang kuat. Di samping itu, juga
dikenal pejabat yang menggunakan nama-nama binatang, misalnya Kebo Salawah, Lembu
Agra, Gajah Kuning, dan Macan Putih.
6.
Kameswara
Kameswara memerintah
Kerajaan Kediri tahun 1182–1185. Kameswara bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara
Tri Wikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayattunggadewanama. Pada masa
pemerintahan Kameswara, seni sastra berkembang pesat.
7.
Kertajaya
Setelah Kameswara
mangkat, raja yang memerintah Kediri adalah Kertajaya atau Srengga. Gelar
Kertajaya ialah Sri Maharaja Sarweswara Triwikramataranindita Srenggalancana
Digjayattunggadewanama. Kertajaya adalah raja terakhir yang memerintah Kediri.
Kertajaya memerintah Kediri tahun 1185–1222.
Pada masa
pemerintahannya, Kertajaya sering berselisih pendapat dengan para brahmana.
Para brahmana kemudian minta perlindungan kepada Ken Arok. Kesempatan emas itu
digunakan Ken Arok untuk memberontak raja. Oleh karena itu, terjadilah
pertempuran hebat di Ganter. Dalam pertempuran itu, Ken Arok berhasil
mengalahkan Raja Kertajaya. Dengan berakhirnya masa pemerintahan Kertajaya,
berakhir pula masa pemerintahan Kerajaan Kediri sebagai kelanjutan Dinasti
Isana yang didirikan oleh Empu Sindok.
B. KEHIDUPAN EKONOMI
Kediri
merupakan kerajaan agraris dan maritim. Masyarakat yang hidup di daerah
pedalaman bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian di daerah
pedalaman Kerajaan Kediri sangat melimpah karena didukung oleh kondisi tanah
yang subur. Hasil pertanian yang melimpah memberikan kemakmuran bagi rakyat.
Masyarakat
yang berada di daerah pesisir hidup dari perdagangan dan pelayaran. Pada masa
itu perdagangan dan pelayaran berkembang pesat. Para pedagang Kediri sudah
melakukan hubungan dagang dengan Maluku dan Sriwijaya.
Pada
masa itu, mata uang yang terbuat dari emas dan campuran antara perak, timah,
dan tembaga sudah digunakan. Hubungan antara daerah pedalaman dan daerah pesisir
sudah berjalan cukup lancar. Sungai Brantas banyak digunakan untuk lalu lintas
perdagangan antara daerah pedalaman dan daerah pesisir.
C. KEHIDUPAN SOSIAL
Pada
masa kejayaan Kediri, perhatian raja terhadap rakyatnya bertambah besar. Hal
ini dibuktikan dengan munculnya kitab-kitab atau karangan yang mencerminkan
kehidupan sosial masyarakat pada masa itu. Seperti kitab Lubdhaka yang
mengandung pelajaran moral bahwa tinggi rendahnya martabat seseorang tidak
ditentukan oleh asal dan kedudukan, melainkan berdasarkan tingkah lakunya.
Raja
turut serta dalam perlindungan terhadap hak-hak rakyat. Sikap memberi
perlindungan ini merupakan satu alat efektif untuk melihat perkembangan
kehidupan sosial masyarakat Kediri.
Berdasarkan
kronik-kronik Cona, tercatat bahwa :
1. Rakyat
Kediri pada umumnya telah memiliki tempat tinggal yang baik.
2. Hukuman
yang dilaksanakan ada dua macam, yaitu hukuman denda dan mati (khusus bagi
pencuri dan perampok).
3. Kalau
sakit, rakyat tidak mencari obat, tetapi cukup memuja para dewa.
4. Pakaian
masyarakat Kediri cukup rapi.
5. Kalau
raja bepergian, dikawal oleh pasukan berkuda dan bukan pasukan darat.
6. Martabat
seseorang tidak dilihat dari status, tetapi pada kelakuannya.
D. KEHIDUPAN BUDAYA
Pada
zaman kekuasaan Kerajaan Kediri, kebudayaan berkembang pesat. terutama pada
bidang sastra. Hasil-hasil sastra pada zaman Kerajaan Kediri di antaranya:
1. Krisnayana,
diperkirakan berasal dari pemerintahan Raja Jayawarsa.
2. Bharatayuda,
dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh tahun 1157, pada masa pemerintahan
Raja Jayabaya.
3. Arjuna
Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa. Dalam ceritera itu mengisahkan upacara
pernikahan Raja Airlangga dengan putri raja dari kerajaan Sriwijaya. Cerita ini
dibuat pada masa pemerintahan Raja Jayabaya.
4. Hariwangsa,
dikarang oleh Empu Panuluh pada masa pemerintahan Raja jayabaya.
5. Bhomakavya,
pengarangnya tidak jelas.
6. Smaradhana,
dikarang oleh Empu Dharmaja pada masa pemerintahan Raja Kameswara.
7. Wratasancaya
dan Lubdhaka, dikarang oleh Empu Tanakung.
Demikian artikel tentang kerajaan Kediri, telah kami susun dari berbagai sumber.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar